Skip to main content

Posts

Kesederhanaan Selayar

Tawa staf Dinas Pariwisata kepulauan Selayar meledak saat aku melontarkan pertanyaan "Di Selayar, ada jalan raya?". Ibu berkerudung biru yang sampai sekarang aku lupa namanya (maap ya buuuu), sambil terkekeh bilang ke teman yang duduk di sebelahnya. "Mbak Pungky ini tanya, ada jalan poros di Selayar?" Aku menunggu jawaban dengan setia, teman disebelahnya-yang juga staf Dinpar Kepulauan Selayar-bukannya menjawab, malah ikut tertawa geli. Aku emang lucu banget, bu, semua juga tau. Tapi mbok ya dijawab dulu, baru ketawa lagi. Tak berselang lama, mobil kami merapat di tepi landasan pesawat, dekat bandara Aroeppala. "Ayo mbak turun.." "Ngapain kita di landasan pesawat?" "Lho katanya mbak Pungky nanya jalan poros di Selayar.." "Ha ... ?" *** Aku bisa sampai ke Selayar adalah karena undangan dari dinas pariwisata setempat. Semuanya berawal dari buah sillaturrahmi yang gak pernah aku duga.  Hari pertama, kami dibawa mengelilingi pul...

Lebih Dekat dengan Action Cam

Belakangan ini, lagi tren banget ya penggunaan action cam , atau kamera aksi dalam bahasa Indonesia. Seiring meledaknya traveling sebagai gaya hidup dan kebutuhan yang pelan-pelan jadi primer, popularitas action cam ikut meroket tajam. Apalagi di kalangan para pengibar bendera hitam dengan teriakan mah trep mah edvencyooor . Aslinya, action cam dibuat untuk pengambilan gambar yang bisa dibilang ekstrim. Alias susah dilakukan oleh kamera biasa. Tapi, sekarang mah lebih mirip kamera kekinian yaa.. Apa-apa pakai action cam entah biar apa. Padahal kan setiap jenis kamera udah didesain sesuai fungsinya. Ada momen-momen atau hal-hal yang malah wagu kalau diambil dengan action cam . Tapi yaaa gitu deh, namanya juga manusia. Ngeh, apa ini x)) Action cam lazimnya berbentuk mungil dan punya nama lain pov cam. Pov itu point of view , simpelnya, si kamera ini menjadi mata sudut pandang pertama. Si pelaku. Makanya action cam biasanya didukung dengan asesoris yang bisa buat nyantelin kamera min...

Lipstick-Lipstick Andalan

Namanya juga perempuan yah, mau punya lipstick sekontainer banyaknya, yang sering dipakai ya tetep berlaku hukum 4L: Lo Lagi Lo Lagi. Kalau diitung-itung, lipstick yang sekarang aku punya mungkin ada lebih dari dua puluh biji. Bermacam brand, beragam warna. Dari yang 10ribu hore sampai harga setengah juta boleh dikasih. Dari yang keberbi-berbian sampai yang kalo dipakai bikin pengen gampar. Warna nude, ungu, oranye, pink, sampai merah jeding ala Marlyn Monroe abis makan bakso malang kebanyakan sambel. Yang sering dipakai? Cuma dua. Ehehehehehe Mereka adalah Bourjois Rouge Velvet warna Nude-ist dan Bourjois Rouge Edition 12 hrs nomer 29. Dua-duanya boleh dikasih sama selebblogger, sebut saja Mbaksul. Nama aslinya sih Isti'adzah, tapi karena dia tinggal di Suly, Kurdistan, jadi aku panggil Mbaksul. Mbak mbak Suly. Ribet bener idup gue yeh. Dua gincu ini selalu aku bawa kemanapun aku pergi, selalu aku pakai tiap keluar rumah. Ih, mall mah jauh, ke warung yang seselepetan karet gelang...

Kami Ada untuk Berbagi (.)

Sebuah ucapan terimakasih penuh haru mendarat ke kotak surelku malam itu, dari seorang ibu yang enggan menyebutkan nama, dia bilang perkenalan kami telah mengubah hidupnya seratus delapan tujuh koma lima derajat. Pengin bales 'elu sapa hoy?' , tapi aku kan anak baik-baik. Jadi dengan baik-baik juga aku tanya maksudnya apa dan kenal darimana.  Pengakuannya, dia baru saja melewati titik paling jatuh dalam hidup. Nyaris terjun dari lantai dua rumahnya adalah klimaks. Walaupun ada sedikit perasaan dalam hatiku yang mbatin , jatuh dari lantai dua kayaknya enggak bakal mati deh bu. Paling patah tulang, trus tengsin. Tapi aku diam, selain karena aku kan anak baik-baik, aku juga tau persis apa yang mendorongnya untuk naik ke balkon lantai dua dan nyaris terjun. Bunuh diri yang kurang masuk akal, tapi baginya detik itu, pasti menjadi jalan pintas menuju pintu keluar. Ruangan itu bernama Post Partum Depression, dia-dan aku-pernah terjebak di dalamnya. Pintu keluar sudah lama ditutup rapa...

Review: Sulamit Kosmetik. Hah, SULAMIT?

Serius deh, setiap mau bahas Sulamit, aku masih selalu merasa asing sama namanya. SULAMIT??? Kalian baru denger? Syamaaaa. Namanya unik banget he eh, gak kayak nama produk kosmetik yah,  Eh, dulu dulu, Sulamit Kosmetik? Emang aman? Di berita-berita kok katanya berbahaya? Ekhem ... soal ini, udah aku bahas panjang kali lebar kali tinggi kali kali kalian pengen baca. Di sini: Sulamit Kosmetik Berbahaya? . Sekarang, aku mau nge-review beberapa produk Sulamit yang aku punya. Dia ini merk lokal, punyanya PT Puncak Masa Keemasan Indonesia. Terdaftar di bpom dan bersertifikat halal mui. Yukahcus! 1. Sulamit Eyeliner Liquid Pen Dari jajaran Sulamit yang aku punya, ini paling favorit! Eyeliner tapi bentuknya spidol, enyaaaak banget buat bikin garis. Jangankan bikin garis, buat menggambar ... kisah indah kita berdua pun enak. Ujungnya pas, gak terlalu runcing gak juga tumpul banget. Kayak lagi gambar pakai spidol aja gitu. Sangat aku rekomendasikan untuk kamu kamu dan kamu yang baru belajar ...

Perawatan Rambut Setelah Dicat

Setelah kemarin rambutku dicat , otomatis banget aku langsung mendadak lenjeh. Haha Beneran deh, pengalaman temen-temenku, rambut yang abis dicat itu lama kelamaan pasti jadi rusak. Kering, patah, dan pating-kruwel. Walaupun cat rambut yang aku pakai kualitasnya oke punya, tapi tetep aja aku gak mau kecolongan. Harus dirawat baik-baik supaya aku rambutku tetep kayak gadis iklan syampoh. Ya kan ya dong, ya gak sih? *ragu* Nah, saking puasnya sama cat rambut yang kemarin aku pakai , akhirnya aku mempercayakan perawatan rambutku paska dicat dengan Hair Treatment dan Hair Serum dari merk yang sama. Yap, Lolane! Belom tau yah, Lolane ini ada shamponya apa enggak, kalau ada, kayaknya aku mau pakai juga. Saking cintanya sama merk sama satu ini. Mumumuu.. Lolane Natura Hair Treatment (For Nourishing & Color Care) Ada dua jenis sebenernya, untuk merawat rambut rusak dan merawat rambut setelah dicat. Aku pilih yang Color Care , jelas. Soalnya di kemasannya, ada tulisan mengandung formula ...

Harga Sebuah Kepercayaan

Berapa harga sebuah kepercayaan? Sekalimat pertanyaan itu yang menghantui aku saat seorang teman bilang dengan tengilnya "Masa desain logo gratis sih, murahan bener karya lo!" . Bangkrek, dikata sini rempeyek alot kali bisa selo aja digituin. Ya memang ada benernya sih, desain grafis (dalam bentuk apapun itu), bikinnya gak gampang. Minimal, harus belajar berbulan-bulan, latihan bertahun-tahun dan masa pembuatan yang gak bisa semalam jadi.  Aku emang bukan jagonya desain grafis, enggak sama sekali malah. Kemampuanku paling keren, bikin foto sendiri jadi mencling kinyis kayak artis korea kesiram bayclin, pakai photoshop. Paling hits, bikin header blog buat beberapa teman. Itupun yaa, menurutku 'gitu doang' jadi ngapain dibayar. Tapi ternyata menurut temenku, sesepele apapun hasilnya, desain grafis adalah karya dan punya harga. Gak bisa gratis. Suatu waktu, mbak Waya Komala , curhat sama aku kalau dia lagi bangun usaha jual rendang online . Miss Rendang namanya, pernah ...