Waktu aku memasukan Lactacyd Intimate White ke keranjang belanja, suamiku sempat protes. “Lho, kok yang biru? Biasanya yang pink..” “Iya, soalnya yang ini bisa sekalian menyerahkan area V”, jawabku. “Buat apa? Kan enggak kelihatan..” Tanyanya lagi sembari mendorong trolley ke arah kasir. “Masa kamu nanya sih buat apa?” “Aku terima kamu apa adanya, kok!” kilahnya. Sambil menaikkan belanjaan ke meja kasir, obrolan kami menjadi panjang dan seru. Pembahasan soal area V yang menurutnya, buat apa dirawat, gak ada yang lihat. Toh dia menerima aku apa adanya. Sekalipun area V milikku, warnanya lebih gelap dibanding bagian tubuh yang lain. Oh, maaf suamiku, jangan geer dulu. Urusannya gak sesederhana itu. Merawat area V, buatku, bukan cuma soal membahagiakan suami. Bukan juga karena aku hobi pakai bikini atau hotpants, jadi harus bersih dan mencling. Bukan. Mencerahkan area V, bagiku, adalah soal mencintai diri sendiri. Mensyukuri pemberian Gusti. Harus dirawat, dikembalikan warna aslinya, dij...