Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Sulawesi Selatan

Perkampungan Tua Bitombang, Secuil Kemesraan Kepulauan Selayar

Matahari lagi ganteng-gantengnya waktu jalan yang aku tapaki mulai menanjak dan membawaku ke perkampungan tertinggi di Kepulauan Selayar. Sekalipun terik, aku gak bisa menolak keinginan untuk menengadahkan kepala. Beberapa meter dari batu besar yang menjadi ‘gerbang’ masuk, aku dikepung rumah-rumah tinggi khas suku Bugis. Bedanya, yang ini tinggi banget. Beneran tinggi sampai-sampai mataku perih karena seperti menantang matahari. Aku menarik napas dalam, senyum-senyum norak dan bilang bangga sama diri sendiri.. akhirnya sampai juga . “Selamat datang di Bitombang, mbak. Perjalanan jauh, ye?” Seorang bapak berbalut kaos dan kain sarung menyambutku dengan senyum. Kepala desa. Kata ye di akhir kalimatnya, mengisyaratkan bahwa beliau asli Selayar. Seraya mengembangkan sebelah tangan, aku diajak naik ke bukit yang lebih tinggi, menuju pintu masuk rumah-rumah yang mengusik rasa penasaranku sejak tadi. Perkampungan Tua Bitombang, namanya. Desa adat tertua di kepulauan Selayar, Sulawesi Selata...

Menuju Selayar

"Kak, bangun kak.. Udah banyak orang, kursinya gantian" Tepukan pelan di kaki dari mas mas cleaning service bandara membangunkan tidur setengah pulasku. Aku menyingkap pashmina motif trio macan yang menutupi separuh badan. Dua ibu-ibu jutek dengan muka mamah dedeh belon gajian, menatapku dengan wajah 'gantian woy kursinya' . Ya ampun, udah rame! Jam berapa sekarang? "Udah jam 6.. Flight jam berapa, kak?" "Jam 9, mas. Toilet di sini boleh numpang mandi?" "Tanya sama ibu yang jaga toilet ye.." Kata YE di akhir kalimat mas cleaning service khas sekali, menyadarkanku kalau tanah yang aku injak sekarang adalah Sulawesi Selatan. Aku meninggalkan kursi tunggu, menenteng travel bag biru kesayangan, dan menuju toilet . Mandi? YAKALI. Cuci muka sama bikin alis doang lah. Dimanapun itu, prinsip hidup harus selalu dipegang teguh: biarin gak mandi, yang penting alis dan eyeliner menjuntring dengan sempurna.  Sipmantap. Setelah dandan kinyis, check i...

Kuliner Selayar, Sensasi Makan Tanpa Bumbu

Setelah melalui 21 jam perjalanan yang sungguhlah melelahkan, ditambah tidur cuma sempet dua jam ngemper di bandara, hal yang sangat sangat aku inginkan ketika sampai di Selayar adalah: makan, makan, makan, lalu tidur. Tapi namanya juga jalan-jalan undangan, selelah apapun badan, tetap harus semangat ikut jadwal dari pihak pengundang, yang di sini adalah Dinas Pariwisata Selayar. Untung aja, muka kelaparanku tertangkap radar, agenda pertama di hari pertama kami adalah MAKAN. Sempurna banget, kami langsung diajak icip-icip kuliner khas Selayar. Bayangkans, lagi lapar berat, lelah supersungguh, diajak makan hidangan lokal yang sedapnya jangan ditanya. Maha Pengasih Gusti memang selalu lebih dekat dari urat nadi. Mobil kami berhenti di pinggir jalan-yang menurutku-sempit karena hanya cukup untuk dua mobil itupun mepet. Tapi belakangan aku tau, kalau seluruh jalan di Selayar ya seperti itu. Bagian dari kesederhaan yang menyenangkan . Kami diajak masuk ke warung makan ikan bakar, disambut ...

Kesederhanaan Selayar

Tawa staf Dinas Pariwisata kepulauan Selayar meledak saat aku melontarkan pertanyaan "Di Selayar, ada jalan raya?". Ibu berkerudung biru yang sampai sekarang aku lupa namanya (maap ya buuuu), sambil terkekeh bilang ke teman yang duduk di sebelahnya. "Mbak Pungky ini tanya, ada jalan poros di Selayar?" Aku menunggu jawaban dengan setia, teman disebelahnya-yang juga staf Dinpar Kepulauan Selayar-bukannya menjawab, malah ikut tertawa geli. Aku emang lucu banget, bu, semua juga tau. Tapi mbok ya dijawab dulu, baru ketawa lagi. Tak berselang lama, mobil kami merapat di tepi landasan pesawat, dekat bandara Aroeppala. "Ayo mbak turun.." "Ngapain kita di landasan pesawat?" "Lho katanya mbak Pungky nanya jalan poros di Selayar.." "Ha ... ?" *** Aku bisa sampai ke Selayar adalah karena undangan dari dinas pariwisata setempat. Semuanya berawal dari buah sillaturrahmi yang gak pernah aku duga.  Hari pertama, kami dibawa mengelilingi pul...

Ketukan Pintu dari Selayar

Kamu percaya kalau sillaturahmi adalah bagian dari rejeki? Aku, sangat percaya dan baru saja membuktikannya. Ternyata punya banyak teman adalah tabungan, dan menjalin hubungan baik dengan mereka adalah harta. Kombinasi keduanya, dapat menjadikanmu orang kaya yang memperjelas kalau bukan hanya uang yang sanggup membeli segalanya. Pertemananku dengan mbak Icus, membawaku pergi ke Sulawesi Selatan, gratis. "Mbak, ada yang mau ke Selayar hari selasa?" Begitulah sekalimat pesan yang mendarat ke grup wasap kami, sekumpulan ibu-ibu blogger tukang gosip tukang bully tukang nyinyir tukang rebutan hadiah, yang menjalani dua tahun bersama dalam sebuah kotakan aplikasi berbalas pesan. "Hajar puuung!" "Tuh pung, berangkat.." "Selayar pung.." Dua puluh dua perempuan dalam satu grup, tapi yang mereka sebut adalah namaku. Dalam grup kami memang seperti ada template- nya, rejeki akan kami bagi rata sesuai bidang masing-masing. Nah, kebetulan, kalau soal jalan-jal...