Skip to main content

Galang Bahari, Terimakasih Telah Memulangkanku pada Laut


Aku punya semacam hubungan yang aneh sama laut. Mungkin bener kata orang, kalau cinta jangan berlebihan, nanti jadi benci. Aku tuh benci banget sama laut, karena saking cintanya. Laut selalu sukses menguras isi perutku yang mabokan ini. Jangankan nyemplung, kadang baru lihat dari jauh aja udah puyeng. Tapi sialnya, laut selalu bikin aku balik lagi balik lagi. Sampe akhirnya jadi muntah lagi muntah lagi. Lautnya yang jahat atau akunya yang nggak tau diri? haha

Aku pengin banget bisa diving, nyemplung dan melihat dasar laut. Membaur bersama laut dan semesta di dalamnya. Renang mah bisa. Tapi apalukata, boro-boro menyelam, snorkeling aja beraninya pakai life jacket. Ngambang aja gitu di permukaan air kayak tokhay. Karena laut terlalu menakutkan buat aku, saking cintanya.




"Pak, saya mabokan!"
"Iya, mbak udah bilang berkali-kali.."

Bapak yang aku lupa namanya itu, guide sekaligus operator kami. Dia, dengan santainya memintaku untuk turun dari kapal, dan nyemplung ke laut. Sebenernya kalau cuma snorkeling sih aku sering, tapi ini jadi lain karena dia menyuruhku berenang menjauhi kapal. Jauh yang beneran jauh. Terakhir snorkeling di Nusa Lembongan, aku muntah di laut. Untung kapalnya deket, jadi bisa langsung naik dan rebahan cantik. hahahaha ndeso!

Kami mengapung di tengah laut pulau Abang. Bagian dari Kepulauan Riau ih, ada di google maps.

"Coba liat ke bawah, banyak nemonya!"

Si bapak guide yang aku lupa namanya itu mengeluarkan titah lagi, masih dengan santai. Setdah, pak. Nggak tau apa ini dedek-dedek udah pucet njelipet, jiper karena udah semakin jauh dari kapal. Kalo pingsan di tengah laut apa nggak amsyong. Kok ya dia tetep selo kayak nggak ada apa-apa.

Makin lama kami berenang, si bapak makin selo. Makin cengengesan, makin sumingrah, dia kayak anak kecil yang lagi ngajak laut main. Setiap ada clown fish, dia selalu histeris kayak ibu-ibu nemu diskonan tupperware. Aku senyum-senyum sendiri liatnya, ngikutin dia berenang sambil sesekali main sama ikan-ikan yang nyamperin, sambil ikut ketawa-ketawa karena si bapak ngelawak mulu. Iya, di tengah laut dia ngelawak, bertalenta warbiyasa.

Dan tiba-tiba aku sadar: WOGH KAMI SUDAH BERENANG JAUH!

Sampai di satu titik, si bapak nawarin "mau foto underwater gak?". Aku kontan jerit, "Mauuuuuu!". Mau versiku itu maksudnya nyemplungin kepala aja di permukaan kayak lagi snorkeling biasa trus dijepret. Ternyata enggak, mau versinya bapak guide adalah melepas seluruh perlengkapan snorkeling kecuali fin, terus menyelam masuk. Jadi dari mulai mask, snorkel, sampai life jacket harus dilucuti. Tinggal sisa baju yang kami pakai, dan fin. Aduh!

Aku mengkeret seketika waktu si bapak menggenggam tanganku dan bilang, "Nanti kalau saya tarik, langsung masuk air ya terus liat ke kamera yang dipegang temen saya".

Eh. Eh. Eh. Ntar dulu. Ini nggak pakai swimming mask lho masa nyemplung laut sih, emang matanya nggak perih? Trus nggak pakai life jacket gimanalah caranya badan yang berat dosa ini bisa naik lagi ke permukaan? Jangan bercanda! Nanti kalo aku pingsan di dalam laut gimana? Nanti kalo aku panik trus malah tenggelem gimana? Nanti kalo...

Blemm...!!!

Si bapak masuk ke air dan menarik tanganku. Aku sekip. Tiba-tiba udah di air, buka mata, dan.. Wow, aku di dalam laut! Ini pertama kalinya aku berani menenggalamkan diriku ke laut, dan.. nggak apa-apa. Si bapak tetap menggandeng tanganku, dan semuanya berjalan nggak apa-apa.

(( berjalan nggak apa-apa ))

Nggak sampai semenit, kami naik lagi ke permukaan untuk ambil napas. Nggak susah! Badan bisa naik sendiri dan rasanya gampang banget. Astaga kemana aja lu pung? Aku cengengesan bangga, takjub sama diri sendiri. Seterusnya, aku ketagihan nyemplung naik nyemplung naik. Berkali-kali minta si bapak buat gandeng dan bawa aku masuk laut lagi. Satu, karena rasanya kayak lagi balikan sama cinta lama. Meskipun nggak terlalu dalam, tapi aku sampe terharu bisa membaur seintim itu sama laut. Dua, karena fotonya belom ada yang bagus, jadi ulang dong ah! HAHAHA

Maaf ya foto bawah airnya nggak bisa dipajang karena nggak ada yang cantik. Haum.

Aku belum puas sebenernya, tapi temen-temen udah keburu minta gantian foto. Heu. Jadi aku pake lagi semua perlengkapan dan renang menjauhi bapak guide. Eh ketemu mas Ahmadi, temen dari blogger Kepri yang jago banget masa renang di laut cuma modal badan doang. Aku modusin aja. Aku minta tolong jagain, karena aku mau melangit di laut!

Aku lepas lagi semua perlengkapan dan minta tolong mas Ahmadi pegangin hahahaha nyusahin bener pungky ya. Udah gitu masih juga nitip wasiat, "Mas, kalo aku kenapa-kenapa, langsung tolongin ya..". Mas Ahmadi mengangguk. Entah tanda setuju, entah iyain aja biar cepet.

Nggak jauh dari kami, ada mbak Rina dan mas Danan berdiri di atas kapal. Mereka juga temen-temen dari blogger Kepri. Aku melambai, "Mba.. Fotoin dooong!". Mba Rina mengangkat jempolnya. Pelan-pelan, sambil deg-degan, setengah nggak yakin, aku menjauh dari mas Ahmadi dan seluruh perlengkapanku yang dia pegang. Berenang, sendirian, di tengah laut. 

"Nggak apa-apa, kalau panik nanti malah tenggelam. Bisa renang kan? Tenang aja.. Laut baik kok!"

Laut baik. Laut baik. Laut baik. Kenapa aku malah lupa? Aku bisa sebegitu cintanya sama laut, tapi masa mengapung sendirian aja gak berani?

Pelan-pelan, aku semakin jauh dari mas Ahmadi dan life jacketku. Mba Rina dan mas Danan, di atas kapal, udah siap dengan kameranya. Aku berhenti, deg-degannya udah pindah ke jidat, tapi aku tau inilah waktunya.

Tubuhnya melaut, kepalanya melangit. Aku berhasil!

Aku nggak tau seberapa banyak foto yang mba Rina ambil. Nggak tau juga udah seberapa  lama mas Ahmadi baik banget jagain dari jauh. Yang aku tau, aku nggak bisa berhenti buat menikmati waktu itu. Membaur dengan laut. Aku senyum-senyum sendiri saking senengnya. Banyak hal yang kukirim ke langit waktu itu. Terimakasih laut, kamu baik!

**

Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku melakukan perjalanan laut tanpa muntah! Selama di kapal, aku beneran nggak pusing sama sekali kayak biasanya. Seketika berasa anak kota, wey pungky gak mabok wey hahahaha Pertama kalinya juga aku berani nyemplung ke laut tanpa life jacket dan swimming mask.

Ternyata air laut nggak perih lho di mata, nggak sakit juga di hidung. Asal kita tenang, nggak panik, dan berenang di lokasi yang tepat, laut itu sebenernya super-super ramah. Air yang masuk mulut memang asin tapi ya biasa aja. Nggak akan bikin gelagapan atau apa. Masih lebih perih ditikung pas lagi mesra-mesra. Asli.

Tapi enggak semua titik di laut bisa dicemplungin, ya. Salah-salah, malah bisa mematikan karena alam kan nggak sembarangan. Jadi memang harus sama operator atau didampingi profesional. Harus tau diri juga, kalau nggak bisa renang ya tetaplah pakai life jacket. Kebetulan pulau Abang ini lautnya memang tenang. Ombaknya masih dedek-dedek semua jadi memang cocok untuk snorkeling atau free dive.



Orang paling berjasa untuk pengalaman mewahku ini, tentulah si bapak guide yang aku lupa namanya itu. Dia dari Galang Bahari, atau namanya @pulauabangtrip di instagram. Kalau kalian ke Batam, kusarankan banget untuk ambil tripnya mereka ini. Karena apalah artinya ke Kepulauan Riau kalau nggak main ke laut. Bagai sayang-sayangan tapi tanpa status, kurang greget!

Iya, aku memang berterima kasih banget sama Galang Bahari ini. Soalnya tadinya rombonganku sempet nyaris batal main ke laut karena jumlah kami nggak mencukupi buat ikut open trip. Minimal 10 orang dan kami cuma berlima. Itu lagi bulan puasa jadi wisatawan beneran sepi, kami nggak bisa berharap ada rombongan lain mau join. Abang-abang pemilik Galang Bahari (yang aku juga lupa namanya hahahahaha), tiba-tiba dengan sangat baik mengijinkan kami buat tetep melaut. Kapal berangkat walau jumlah kami nggak memenuhi kuotanya.

Aku yakin mereka pasti rugi karena paket trip seharian itu udah termasuk makan siang (rombonganku banyak yang lagi nggak puasa, fyi), fasilitas bersih-bersih, kelapa muda, perlengkapan snorkeling, dan tentunya guide yang superrr keren. Duh, seneng bianget. Kudoakan ya, semoga seluru kru Galang Bahari sehat terus, sukses terus, tripnya rame terus. Terimakasih sudah berbaik hati, terimakasih untuk trip yang sangat berarti buat aku, terimakasih telah memulangkanku pada laut.





Terimakasih juga buat mas Ahmadi, mbak Rina, mas Danan, yang udah jagain aku di laut. Kalian baik banget sarapannya apa sih? Juga buat mbak Dian, yang bikin aku menemukan Galang Bahari. Dan tentulah mas Rian dan mas Ridza, bapak-bapak terhormat yang.. tanpa mereka nggak bakal lah aku berangkat ke Kepri. Terimakasih, semoga perjalanan-perjalanan kalian selalu menyenangkan.


Depok, akhir agustus kangen laut, 2017
Dan kepada Langit Alpheratz, kusampaikan sebuah kabar; Kamu tau, Langit. Seperti pada Jakarta, pada laut, aku sudah baikan!


***

Galang Bahari (Wista Pulau Abang dan Petong)
Call/sms/whatsapp: 085264634106
Line: wisatapulauabang‬   
facebook.com/pulauabangtrip

Comments

Popular posts from this blog

Tips Foto Flatlay Keluar-Keluar Berantakan

Tau dong kalau sekarang lagi musim foto flatlay? Tenang, aku sudah pernah nulis tentang Tutorial Membuat Foto Flatlay , jadi yang masih buta banget bisa belajar awalannya dulu. Nah, salah satu gaya flatlay yang sangat kekinian, selain hand in frame , adalah keluar-keluar berantakan. Sumpah ya aku gak tau istilah aslinya tuh apaaaa. Pokoknya, itu tuh, flatlay yang kesannya banyak benda berserakan keluar dari tas atau pouch. Apa sih namanya sih? Kayak gini nih: Akrab dong ya dengan gaya flatlay semacam ini? Itulah yang kumaksud, dan itulah yang aku sebut keluar-keluar berantakan. Semoga tidak ada flatlay master yang membaca ini dan menceburkanku ke selokan terdekat. Amin. Sekarang, aku mau kasih tips membuat foto flatlay keluar-keluar berantakan. Cekidotcus! 1. Ukuran Tas vs Ukuran Benda Flatlay gaya ini biasanya menggunakan tas atau pouch, sebagai pemanis objek utama dalam foto. Nah, hal penting yang harus diperhatikan, adalah ukuran mereka sebagai pasangan objek. Tas dan benda yang ke...

7 Alasan Kenapa Aku Jatuh Hati pada ASUS Zenfone 3

Bosen nggak sih liat aku terus-terusan pamer ASUS Zenfone 3 di sosmed? Bhahahaha Ya gimana dong, aku betul-betul jatuh hati smartphone ini. Bahkan gak cuma aku, di rumah, ASUS Zenfone 3 ini jadi primadona. Enggak bisa deh dipakai satu orang dalam waktu yang lama. Kalau seminggu aku pakai, minggu depannya pasti diculik suamiku. Penginnya sih punya satu-satu ya, tapi kan kami enggak kentut duit. Yaudahlah satu aja dipakai berdua. Itu smartphone apa sabun mandi? Seri yang aku bahas kali ini adalah ZE552KL . Ini nih, 7 alasan kenapa aku jatuh hati sama ASUS Zenfone 3: 1. Kaca Belakang yang Berkilau Bukan, bukan kaca belakang buat atret, lukata angkot. Jadi, case bagian belakang ASUS Zenfone 3 ini terbuat dari crystal glass . Dan kalau kena cahaya, asli, dia berkilau! Beberapa orang nggak suka sama hal ini karena bikin cepat kotor. Karena sidik jari apalagi saat tangan berkeringat, pasti nempel dan meninggalkan kesan dekil. Tapi aku mah suka banget. Karena kalau lagi selfie siang bo...

Review: Parasol Face Sunscreen Cream, Cinta Matiku!

Kalau ngomongin sunblock (sunblock sama sunscreen apa bedanya sih?), udahlah, nggak ada yang bisa mengalahkan Parasol di hatiku. Baik yang ungu maupun yang oren, yang mana aku nggak tau bedanya apa hahahaha dua-duanya favorit, cinta matiku. Bagi seorang Pungky, pantang panas-panasan sebelum oles Parasol! Pertama kali tau waktu di Phuket, Ifa yang bawa. Dia bilang, itu sunblock beli di apotik, enak dipakenya. Yaudah aku cobain, eh ternyata beneran, mandi matahari di laut selama 3 hari itu, kulitku baik-baik aja. Biasanya kan ngelopek-ngelopek, perih, dan jadi putih-putih kayak panu gitu. Ini enggak, biasa aja kayak nggak abis panas-panasan. Parasol, di kulitku, beneran top markotop endos jelantos sip markisip. Bentuknya cream padat, tapi gampang banget ratanya. Kayak yang sekali oles langsung ngeblend gitu, nggak bikin putih-putih atau apa. Cepet meresap dan gak lengket sedikitpun. Teksturnya lembut, jadi di kulit nyaman dan enak. Dia ada dua jenis, satu yang kemasan ungu, satu lagi ore...