Skip to main content

Punya Asma dan Ingin Hiking? Bukan Masalah!


Sejak aku rajin upload foto tempat-tempat asyik di Banyumas, banyak banget temen dari luar kota yang beneran dateng trus minta diantar. Ya jaman sekarang gitukan, traveling dan foto sama alam ala-ala petualang lagi tren banget. Mereka datang dengan ekspektasi akan foto kece sama pemandangan kece. Ditambah setelan traveler masa kini, lengkaplah sudah makanan untuk akun instagram masing-masing. Muahahaha


Masalahnya, setelah sampai sini dan kami melakukan perjalanan, gak sedikit yang akhirnya ngeluh: KOK KUDU JALAN JAUH BANGET SIH? NANJAK PULA! Trus sampai di lokasi, mereka udah keringetan lepek dengan muka ngos-ngosan, fotonya jadi kucel dan gak cantik lagi. Muahahaha Lah? Emang sejak kapan ada tempat bagus di alam yang bisa dicapai dengan ngedip?

Belom lagi untuk yang punya asma, langsung merasa sia-sia dateng jauh-jauh ke Banyumas. Nggak bisa ngapa-ngapain, katanya. Lah? Emang sejak kapan orang asma nggak bisa hiking? Bhahahahaha 

Yaiya sih, buat orang dengan kondisi kesehatan normal aja, kadang merasa hiking itu salah satu tantangan hidup. Diajak hiking itu rasanya kayak diajak ke pelaminan, banyaaak banget alesannya. Apalagi mereka yang punya asma, beuh, alesannya panjang bener kayak antrean salam tempel. Takut sesak, takut kedingin, takut nggak kuat turun lagi, sampai ada yang takut pengsan.

Padahal ya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Stokes di tahun 2008, diceritakan kalau penderita asma pun bisa naik ke Kilimanjaro. Ada tips-tips yang bisa membantu kamu untuk hiking, meskipun kamu adalah penderita asma.

 

hiking dulu, baru dapet yang beginian :D *btw, ini rasanya kayak nyemplung di air es, untuk penderita asma, sebaiknya pertimbangkan baik-baik, ya.

Nah, dua hal yang paling penting untuk penderita asma yang akan hiking adalah: persiapan dan manajemen resiko.

Kamu tau kamu punya asma, kamu tau akan berjalan menanjak dengan jarak jauh, kamu tau dataran tinggi itu dingin. Tentu kamu juga harus tau diri, tau batas, tau kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, dan tau gimana harus meminimalisir kemungkinan terburuk.

Kita bahas satu-satu, ya.

Persiapan


Kamu mau hiking kemana? Jalurnya seperti apa? Udaranya sedingin apa? Ibarat mau nyeret pacar ke pelaminan, tentu kamu harus pertimbangkan dulu tetekbengeknya. Salah satu persiapan terbaik adalah dengan berolahraga secara rutin. Olahraga rutin dapat membantu mengontrol asma, sehingga nggak sering kambuh. Pun bisa membantu kamu meningkatkan daya tahan tubuh. Disamping itu semua, dengan olahraga, kamu bisa sekalian simulasi. Sampai mana tubuh kamu mampu diajak berjalan dan bergerak banyak.

Selain olahraga, tentu kamu perlu mengunjungi dokter untuk memastikan bahwa kamu betul-betul bisa berangkat. Siap untuk hiking bersama asma!

Manajemen Resiko


Tapi namanya manusia yekan, persiapan matang boleh aja dilakukan, tapi kemungkinan buruk tentu bisa terjadi kapan aja. Penting untuk disadari kalau setiap penderita asma akan menunjukkan efek yang berbeda, saat berada di ketinggian. Tapi yang biasanya terjadi adalah penderita asma akan merasa sakit kepala, mual, kelelahan, dan keinginan untuk muntah seiring naiknya level ketinggian.

Kalau sudah di ketinggian, dan gejala-gejala tersebut nggak kunjung hilang. Kamu bisa melakukan beberapa hal ini:
  • Menghangatkan tubuh. Dingin adalah salah satu pemicu kambuhnya asma. Jadi pastikan kamu memakai pakaian yang cukup tebal untuk menjaga tubuh dari dingin. Bisa juga gunakan hot pack, yaitu gel pad yang dapat mengeluarkan panas. Selain itu, leher dan kuping juga harus benar-benar tertutup.
  • Pastikan kamu minum air dalam jumlah yang cukup.
  • Kendalikan napasmu. Memang normal, kalau kamu bernapas tersengal-sengal di ketinggian. Tapi coba untuk tenang, dan mengatur napas. Jika memang sudah sangat sesak, lapor kepada anggota tim lainnya dan gunakan inhaler.
Note: hati-hati di ketinggian tertentu inhaler aerosol dapat membeku. Jadi, simpan inhaler di tempat yang hangat. Sebelum gunakan gosokkan inhaler di antara kedua tangan, selama 1 – 2 menit.

Jangan sampai asma mengalahkan semangat kamu untuk hiking. Kalau kamu mau berdiri di tempat yang kamu bilang indah, berangkatlah. Siapkan dirimu baik-baik, dan dapatkan yang kamu mau. Psst, aku siap menunggu kalian di Banyumas, kapanpun kalian mau main! :D 

Purwokerto, 23 Oktober kangen air terjun, 2016
Ps. Artikel ini bukan berdasarkan pengetahuan pribadi, YAKALI AKU PINTER BANGET SOAL ASMA. Muahahahaha Tapi dibantu tulis oleh ahli kesehatan yang insya Allah kredibel. Selamat hiking!

Comments

Popular posts from this blog

Tips Foto Flatlay Keluar-Keluar Berantakan

Tau dong kalau sekarang lagi musim foto flatlay? Tenang, aku sudah pernah nulis tentang Tutorial Membuat Foto Flatlay , jadi yang masih buta banget bisa belajar awalannya dulu. Nah, salah satu gaya flatlay yang sangat kekinian, selain hand in frame , adalah keluar-keluar berantakan. Sumpah ya aku gak tau istilah aslinya tuh apaaaa. Pokoknya, itu tuh, flatlay yang kesannya banyak benda berserakan keluar dari tas atau pouch. Apa sih namanya sih? Kayak gini nih: Akrab dong ya dengan gaya flatlay semacam ini? Itulah yang kumaksud, dan itulah yang aku sebut keluar-keluar berantakan. Semoga tidak ada flatlay master yang membaca ini dan menceburkanku ke selokan terdekat. Amin. Sekarang, aku mau kasih tips membuat foto flatlay keluar-keluar berantakan. Cekidotcus! 1. Ukuran Tas vs Ukuran Benda Flatlay gaya ini biasanya menggunakan tas atau pouch, sebagai pemanis objek utama dalam foto. Nah, hal penting yang harus diperhatikan, adalah ukuran mereka sebagai pasangan objek. Tas dan benda yang ke...

7 Alasan Kenapa Aku Jatuh Hati pada ASUS Zenfone 3

Bosen nggak sih liat aku terus-terusan pamer ASUS Zenfone 3 di sosmed? Bhahahaha Ya gimana dong, aku betul-betul jatuh hati smartphone ini. Bahkan gak cuma aku, di rumah, ASUS Zenfone 3 ini jadi primadona. Enggak bisa deh dipakai satu orang dalam waktu yang lama. Kalau seminggu aku pakai, minggu depannya pasti diculik suamiku. Penginnya sih punya satu-satu ya, tapi kan kami enggak kentut duit. Yaudahlah satu aja dipakai berdua. Itu smartphone apa sabun mandi? Seri yang aku bahas kali ini adalah ZE552KL . Ini nih, 7 alasan kenapa aku jatuh hati sama ASUS Zenfone 3: 1. Kaca Belakang yang Berkilau Bukan, bukan kaca belakang buat atret, lukata angkot. Jadi, case bagian belakang ASUS Zenfone 3 ini terbuat dari crystal glass . Dan kalau kena cahaya, asli, dia berkilau! Beberapa orang nggak suka sama hal ini karena bikin cepat kotor. Karena sidik jari apalagi saat tangan berkeringat, pasti nempel dan meninggalkan kesan dekil. Tapi aku mah suka banget. Karena kalau lagi selfie siang bo...

Review: Parasol Face Sunscreen Cream, Cinta Matiku!

Kalau ngomongin sunblock (sunblock sama sunscreen apa bedanya sih?), udahlah, nggak ada yang bisa mengalahkan Parasol di hatiku. Baik yang ungu maupun yang oren, yang mana aku nggak tau bedanya apa hahahaha dua-duanya favorit, cinta matiku. Bagi seorang Pungky, pantang panas-panasan sebelum oles Parasol! Pertama kali tau waktu di Phuket, Ifa yang bawa. Dia bilang, itu sunblock beli di apotik, enak dipakenya. Yaudah aku cobain, eh ternyata beneran, mandi matahari di laut selama 3 hari itu, kulitku baik-baik aja. Biasanya kan ngelopek-ngelopek, perih, dan jadi putih-putih kayak panu gitu. Ini enggak, biasa aja kayak nggak abis panas-panasan. Parasol, di kulitku, beneran top markotop endos jelantos sip markisip. Bentuknya cream padat, tapi gampang banget ratanya. Kayak yang sekali oles langsung ngeblend gitu, nggak bikin putih-putih atau apa. Cepet meresap dan gak lengket sedikitpun. Teksturnya lembut, jadi di kulit nyaman dan enak. Dia ada dua jenis, satu yang kemasan ungu, satu lagi ore...