Skip to main content

Pengin Punya Foto Narsis yang Kece Saat Traveling? Begini Tipsnya..


Jaman sekarang, apa tujuan dari sebuah perjalanan? Kepulangan? Kebahagiaan? Atau makna dari perjalanan itu sendiri? Halah. Jaman begini mah jalan-jalan ya buat foto atuh neng. Buat upload di sosmed dan naikin eksistensi. Humblebrag, gitu. Muahahahaha betul apa betul? :P

Tren narsis saat traveling lagi booming banget, ya. Pengikutnya, sebagian memang pecinta jalan-jalan, sebagian lagi, ya itu tadi: pokoknya foto - upload sosmed - banjir love - kelar. Aku? Berada di zona tengah. Cinta jalan-jalan, tapi harus sambil kasih makan eksistensi. Biar cepet gemuk, cepet jadi selebblog. Eh? xD  

Nah, sekarang aku mau kasih tips dan trik, membuat foto narsis saat traveling. Barangkali bermanfaat buat kamu kamu yang selama ini foto jalan-jalannya isinya muka doang karena kebanyakan selfie. Haha



1. Siapkan Alat Tempur Sejak Berangkat

Mau jalan-jalan kemana? Butuhnya kamera seperti apa? Butuh filter ndak kira-kira? Bakal butuh tripod? Butuh tongsis? Butuh peluk?

Ini harus disiapkan sejak masih di rumah. Plesir ke laut, bakal nyemplung dan berenang-renang, ya masa enggak bawa kamera yang bisa ikutan nyemplung? Minimal action cam, angkut sekalian underwater case dan pelampung nya. Jalan sendirian berhari-hari, mau dapat foto oke, ya bawa tripod dan tongsis dong ya. Main ke pulau eksotis
yang indah baik air maupun darat, asik dong ya kalau bawa dome? Fotonya jadi lebih gregetz. Pakai z.

Siapkan semuanya dan sesuaikan dengan lokasi tujuan. Gak punya? Sama. Tapi demi foto yang lebih kece, biasanya kebutuhan perpotoan ini akan akuusahakan. Bisa pinjam, bisa rental. Karena jalan-jalan ke tempat yang sama belom tentu terjadi dua kali dalam hidupku, jadi aku harus dapat gambar-gambar terbaik yang bisa aku hasilkan. Sekalipun kameranya harus sewa. 

Begitu kira-kira prinsip tengilnya, udah cukup minta ditoyor?

*yooorrrr*

2. Kenali Alat

Peralatan udah siap, tapi gak bisa pakainya. Bhay ngomong aja lu sama tembok. Bhahahaha Sebelum berangkat, oprek dulu bentar. Apalagi kalau sewaan, kan gak semua kamera atau printilan kita kuasai. Pinjem dome punya temen, eh gak bisa pasangnya. Sewa filter demi nyelowspeed ala ala, eh salah ukuran. Ya udahlah jadinya nyelow beneran, plangah plongoh gak bisa apa-apa xD

3. The Power Of Diem Dulu

Saat sampai di lokasi tujuan, plis, diem dulu. Ini terutama buat perempuan, yang mana terdapat tombol otomatis dalam tubuhnya: liat pemandangan cakep dikit langsung panen ratusan selfie. Ya gapapa sih, cuma kan jadinya foto muke lu doang seabrek-abrek. Gak sayang, Nyah?

Luangkan waktu beberapa menit untuk diam, edarkan pandangan dan kenali lokasi. Ada apa aja di sana? Dimana kira-kira spot yang oke buat foto? Kalau foto di situ cucoknya gimana? Istilah kerennya, samakan dulu frekuensi kita dengan lokasi. Kenalan, gitu. 

Pulau Pantara (taken by Metta Marietta)
Buat aku, ini efektif karena jadi ringkes. Acara foto-foto jadi lebih terencana dan cepat. Jadi punya sisa banyak waktu untuk menikmati lokasi dan suasana tanpa kamera atau layar. Betul-betul waktu luang untuk bersenang-senang, gak diganggu “Woy ntar dulu.. aing belom foto di situ..”.

Ya kalau pas lagi leha-leha, pengin selfie atau foto-foto lagi, gak masalah banget. Tapi yang penting foto oke buat diaplot-aplot, udah rapi dibungkus. HAHA

4. Ini Traveling Bukan Rumah Tangga, Jadi Plis Jangan Ribet

Traveling sambil ‘produksi’ foto narsis, butuh keringkesan level bujangan. Enggak ribet dan buat semuanya gampang. Karena kita adalah model sekaligus fotografernya, jadi harus gesit dan sregep. Kuncinya: pastikan barang bawaan gak rempong macam trio macan mau konser akbar.  

Perkampungan Tua Bitombang (taken by mas Adie *lupa nama lengkapnya*)

Bawa tas yang compact dan travel friendly. Gak perlu gede-gede banget, yang penting semua alat tempur kita masuk dan gampang diambil lagi. Apalagi orang kayak aku, ngemengnya ringkes tapi printilannya segambreng. Masih ketambahan bawa phasmina lah, sunblock lah, kaca mata lah, aftersun gel lah, bahkan barang-barang endorsan buat ikut difoto. HAHAHA

Misalnya tas Herschel. Ini tas ukuran dan bentuknya enak banget dibawa traveling dan narsis. Muat buat DSLR dan printilannya, tapi gak keliatan bulky. Modelnya pun stylish jadi bisa sekalian jadi properti pepotoan. Dan paragraf ini adalah kode keras buat mas suami jadi plis siapapun tolong sampaikan.

YANK, BACA KAN YANK. TAS HERSCHEL BISA DIBELI DI ZALORA YA YANK. AKU MAU WARNA PUTIH YANG NAMANYA SETTLEMENT, YANK. CARI YA DI SITU YANK.

SAYAAAAANK....

*dari jauh terdengar mamas bojo melengos dengan napas berat*

5. Komposisi

Pemandangan apa yang bisa dilihat orang dari foto muka doang? Lambaian bulu idung? Plis, kurang-kurangin selfie. Foto muka doang mah di rumah juga bisa. Buatlah komposisi foto yang pas, kamunya kelihatan, tempatnya juga kelihatan. Percuma cerita panjang lebar tentang indahnya pantai X, kalau yang kamu tampilkan cuma foto pasir dan kaki. Atuhlah semua pantai juga ada pasirnya. Toko akuarium depan komplek juga punya pasir, tinggal kasih kaki, beres dong.

Pancuran Pitu (taken by Kukuh Sukmana)

Posisikan diri di tempat yang tepat. Kita lagi narsis kan? Jadi selain tempatnya, kamunya juga harus kelihatan jelas dan kece. Pose lah yang rada keren, atau rada ada gregetnya gitu. Bisa ambil posisi yang agak slengean, kayak manjat pohon misalnya. Biar ala-ala dedek monyet. Tapi inget, jangan sampai merusak APAPUN, ya! Foto kece gak sama dengan nekat dan mengorbankan keindahan tempatnya. Jadilah pejalan yang santun dan tau batas.

Bisa juga memainkan sudut pandang kamera dan teknik jepret. Foto dari atas (dengan si fotografer berada di tempat yang lebih tinggi), foto siluet kamu saat sunset, foto levitasi, atau bermain foreground supaya gak terlalu hambar. Triknya: jangan bosen coba-coba.

Pantai Pandawa (taken by Ferdias Bookelman)

Sendhang Bidadari (taken by Kukuh Sukmana)
Gili Sunut (taken by pak Maman)


6. Awas Bocor! 

Bho, apa yang paling gengges dari mensturasi? Yap, bocor dan tembus ke samping. Begitu juga dengan foto, usahakan banget foto kita gak bocor. Bersih dan rapi. Bocor itu, dalam foto kita ada orang lain ikut kefoto. Bisa sedikit, bisa banyak. Kenapa harus dihindari? Karena seperti mensturasi, belepetan itu gak bagus dipandang mata. 

Fotonya lucu tapi belepetan nenen (taken by Ferdias Bookelman)

Caranya? Tunggu. Tunggu sampe sepi, baru cekrek. Kalau gak sepi sepi juga, ubah posisi. Cari tempat lain atau ganti arah pandang kamera. Posisi menentukan segalanya kalau kata kitab kamasutra mah.

KECUALI, kamu memang mau foto dengan suasana orang-orang di sekitar. Kayak narsis di tengah keramaian gitu.. Belepetan yang di sengaja. Iyuwh sih, tapi untuk beberapa skenario, belepetan satu ini malah bikin foto jadi keren.

*buang pembalut*

7. Siapa yang Motret?

Ya kamera yang kamu bawa lah, masa batu? Bhahahahak. Gini, jadi pernah ada yang nanya ke aku, apakah suamiku selalu ikut saat traveling, kok fotoku (EHEM) bagus-bagus? Aku jawab, gak pernah.

Semua fotoku diambil oleh beda-beda orang, dan gak semuanya ngerti kamera. Ya senemunya temen lah, jalan sama siapa, dialah yang aku daulat jadi fotografer. Daulat semena-mena dan setengah maksa, lebih tepatnya.

Triknya, setting kamera sesuai hasil foto yang kita mau. Atur SEMUANYA. Setingan di kamera, posisi kamera, sampai kitanya pun tau bakal ada dimana dan pose kayak apa. Jadi satu-satunya yang si teman lakukan adalah: pencet tombol kamera.

Pantai Geger (taken by Ferdias Bookelman)
Gili Pasir (taken by Yusuf Nugraha)
Desa Blek (taken by Adi Riyanto)

Enggak ada tuh minta tolong temen, cuma kasih kameranya gitu aja dan berharap fotonya sesuai ekspetasi kita. Pun masih nanya-nanya posisinya udah kece belom, meteringnya udah pas apa masih under, coba fokusnya ke aku pohonnya dibikin blur.. Errr iya kalo temennya ngerti kamera kita, lah kalo enggak? Amsyonglah. Ingat, buat mereka hanya melakukan satu hal: pencet tombol, kelar.

Gak ada temen? Kasian. Tapi masih punya tripod, kan? Masih ada tongsis, ada meja, ada kursi, ada batu, ada lemari, ada pohon, bahkan aku pernah pakai meja setrikaan hotel buat foto diri sendiri. Nyahahahaha

Kayak foto pertama di tulisan ini, itu aku ambil pakai tongsis. Karena susah ajak temen yang mau ikut nyemplung cuma sekedar motretin. Tapi tongsisnya aku buat gak keliatan biar kesannya lebih cihuy, kameranya pakai Yi Cam dengan underwater case, jadi gapapa diajak basah. Lumayan kan hasilnya? Gak bagus-bagus amat sih, tapi untuk tipe foto tongsis, aku puas banget. *narsis abis*

8. Hidup Harus Riya, Kawan

Udah foto, udah cakep, udah kece, ngapain lagi? Upload lah! Hidup harus riya, kawan. Satu dunia harus tau kita traveling ke tempat bagus dan foto kece. Pamer dan sombong adalah kunci.

Muahahahahahaha *ditabok masyarakat*


Pantai Pinang (taken by mas mas dari Dive Indonesia lupa namanya)
 

Purwokerto, ujan deres 18 September 2016

Sekian dan terima gratisan jalan-jalan. Bhay.

Comments

Popular posts from this blog

Tips Foto Flatlay Keluar-Keluar Berantakan

Tau dong kalau sekarang lagi musim foto flatlay? Tenang, aku sudah pernah nulis tentang Tutorial Membuat Foto Flatlay , jadi yang masih buta banget bisa belajar awalannya dulu. Nah, salah satu gaya flatlay yang sangat kekinian, selain hand in frame , adalah keluar-keluar berantakan. Sumpah ya aku gak tau istilah aslinya tuh apaaaa. Pokoknya, itu tuh, flatlay yang kesannya banyak benda berserakan keluar dari tas atau pouch. Apa sih namanya sih? Kayak gini nih: Akrab dong ya dengan gaya flatlay semacam ini? Itulah yang kumaksud, dan itulah yang aku sebut keluar-keluar berantakan. Semoga tidak ada flatlay master yang membaca ini dan menceburkanku ke selokan terdekat. Amin. Sekarang, aku mau kasih tips membuat foto flatlay keluar-keluar berantakan. Cekidotcus! 1. Ukuran Tas vs Ukuran Benda Flatlay gaya ini biasanya menggunakan tas atau pouch, sebagai pemanis objek utama dalam foto. Nah, hal penting yang harus diperhatikan, adalah ukuran mereka sebagai pasangan objek. Tas dan benda yang ke...

7 Alasan Kenapa Aku Jatuh Hati pada ASUS Zenfone 3

Bosen nggak sih liat aku terus-terusan pamer ASUS Zenfone 3 di sosmed? Bhahahaha Ya gimana dong, aku betul-betul jatuh hati smartphone ini. Bahkan gak cuma aku, di rumah, ASUS Zenfone 3 ini jadi primadona. Enggak bisa deh dipakai satu orang dalam waktu yang lama. Kalau seminggu aku pakai, minggu depannya pasti diculik suamiku. Penginnya sih punya satu-satu ya, tapi kan kami enggak kentut duit. Yaudahlah satu aja dipakai berdua. Itu smartphone apa sabun mandi? Seri yang aku bahas kali ini adalah ZE552KL . Ini nih, 7 alasan kenapa aku jatuh hati sama ASUS Zenfone 3: 1. Kaca Belakang yang Berkilau Bukan, bukan kaca belakang buat atret, lukata angkot. Jadi, case bagian belakang ASUS Zenfone 3 ini terbuat dari crystal glass . Dan kalau kena cahaya, asli, dia berkilau! Beberapa orang nggak suka sama hal ini karena bikin cepat kotor. Karena sidik jari apalagi saat tangan berkeringat, pasti nempel dan meninggalkan kesan dekil. Tapi aku mah suka banget. Karena kalau lagi selfie siang bo...

Review: Parasol Face Sunscreen Cream, Cinta Matiku!

Kalau ngomongin sunblock (sunblock sama sunscreen apa bedanya sih?), udahlah, nggak ada yang bisa mengalahkan Parasol di hatiku. Baik yang ungu maupun yang oren, yang mana aku nggak tau bedanya apa hahahaha dua-duanya favorit, cinta matiku. Bagi seorang Pungky, pantang panas-panasan sebelum oles Parasol! Pertama kali tau waktu di Phuket, Ifa yang bawa. Dia bilang, itu sunblock beli di apotik, enak dipakenya. Yaudah aku cobain, eh ternyata beneran, mandi matahari di laut selama 3 hari itu, kulitku baik-baik aja. Biasanya kan ngelopek-ngelopek, perih, dan jadi putih-putih kayak panu gitu. Ini enggak, biasa aja kayak nggak abis panas-panasan. Parasol, di kulitku, beneran top markotop endos jelantos sip markisip. Bentuknya cream padat, tapi gampang banget ratanya. Kayak yang sekali oles langsung ngeblend gitu, nggak bikin putih-putih atau apa. Cepet meresap dan gak lengket sedikitpun. Teksturnya lembut, jadi di kulit nyaman dan enak. Dia ada dua jenis, satu yang kemasan ungu, satu lagi ore...