Skip to main content

Riuh Ramah Kampung Lawas Maspati


Ibu berdaster biru itu mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, matanya basah, tanda sebentar lagi akan ada yang tumpah.

"Usia saya sudah 50 tahun, dik. Tapi belum menikah.."

Aku memilih diam, membalas ceritanya dengan tersenyum.

"Tapi saya kelihatan sehat kan?"

Aku mengangguk cepat. Berusaha segera kabur dari situasi yang bikin canggung ini. Rombongan masih jauh, aku yang jalan duluan ternyata harus nyangkut di depan rumah ibu berdaster biru. Yang gak menyebutkan nama, tapi tiba-tiba curhat sambil menangis.

"Alhamdulillah.. Hidup di sini bikin sehat, dik" Balasnya lagi. Kali ini dengan mata yang setengah mengering, tapi tetap sesungukan.

"Biasanya sehat karena bahagia, bu.. Tinggal di sini bahagia ya, bu?"

Balasku berusaha akrab. Tak ada jawaban, cuma ada cubitan kecil di tangan kiriku bersambut anggukan penuh tawa. Lah? xD




Tempat yang membahagiakan itu, berada tak jauh dari Tugu Pahlawan kota Surabaya. Persis kata si ibu, lingkungan di sana memang bikin sehat. Rimbun dengan pepohonan, keramahan dan rasa  kekeluargaan. Aku beruntung, jadi satu dari sepuluh blogger yang diajak PT Pelindo III untuk berkunjung ke sana. Rasanya seperti pulang ke kampung halaman sendiri. Nyaman sekaligus menyenangkan.

Kunjungan hari itu, mengembalikan ingatanku pada sebuah babak dalam novel Sang Patriot. Diceritakan tentang pertempuran 10 November 1945. Para pejuang yang jelas-jelas kalah dalam persenjataan, tetap maju menghadang tentara Inggris agar tidak masuk dan menghancurleburkan Surabaya. Mereka bersinergi dengan tanah tempat mereka hidup, melawan penjajah. Tanah yang mereka hafal sampai sudut-sudutnya, melindungi mereka dari kejinya tentara Inggris.

Terletak di Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Surabaya, inilah salah sudut yang menjadi saksi perjuangan rakyat Surabaya masa silam: Kampung Lawas Maspati.

**

Kedatangan rombongan kami disambut dengan konser musik rakyat yang super-asyik! Kami dipersilakan jejogetan sampai capek, ikut nyanyi juga boleh. Kalau urat malu udah putus, bikin konser sendiri ya monggo. Tak lupa jamu kunyit asem dan beras kencur sebagai minuman selamat datang. Belum apa-apa, kampung ini sudah menyuguhkan kebahagiaan.


Setelah puas njoget, kami diajak menyusuri kampung. Tapi belum 10 meter, lagi-lagi kami mendapat sambutan dari grup musik Patrol. Anak-anak warga setempat yang lihai memainkan alat musik dan membawakan lagu-lagu ngajak joget. Yasudah, kami mah blogger cinta goyang, dikasih musik lagi ya joget lagi. Hahahahaha

Tak berhenti di situ, ada juga sambutan dari sepasang ibu dan anak yang gemulai menari-nari dengan baju sangat unik. Busana warna-warni nan megah itu, adalah hasil daur ulang sampah karya warga. Kreatif, ya? Pantas lah kampung ini berhasil menyabet berbagai pengahargaan baik lokal maupun nasional. Dan atas tarian ibu berkostum unik tersebut, kami jadi terdorong untuk joget lagi. Kasian dong dia goyang sendirian. Bhahahaha dasar aja doyan!


Oke, sekarang goyangnya beneran udahan. Kami berjalan melihat bangunan demi bangunan. Salah dua yang menarik adalah Sekolah Ongko Loro dan Rumah Lawas. Sekolah Ongko Loro merupakan sekolah rakyat pada masanya, sampai sekarang, bangunan itu tetap utuh sebagaimana dulu digunakan. Sedangkan Rumah Lawas, adalah yang dulu menjadi kediaman bapak H. Soemargono. Tahun 1930-an, rumah ini adalah pabrik sepatu yang banyak menerima pesanan dari warga Hindia Belanda, karena bapak H. Soemargono memang seorang pembuat sepatu.


Kami bertemu mas Rifky, sang cicit yang kini mendiami rumah tersebut. Dipesilakan masuk dan menengok segala peninggalan kakek buyut. Hampir seluruh perabotan rumah tersebut masih asli, belum diganti sejak dulu. Bau tua menyeruak dan membawa kami jauh ke tahun-tahun perjuangan. Bahkan ada sebuah lemari yang terlihat renta namun gagah, katanya, dulu di lemari itulah H. Soemargono mencuci film-filmnya. Karena selain pembuat sepatu, beliau juga seorang fotografer pada masa kolonial. Ruang gelap, tempat potongan-potongan gambar sejarah pernah diabadikan. 


"Dulu pernah ada orang Jepang ke sini, nyari kakek buyut, katanya mau benerin sepatu. Soalnya dulu bikinnya di sini. Tapi kan sudah meninggal, jadi ya dia pergi sambil kecewa."

"Tahun berapa itu mas?" Tanyaku penasaran.

"2003"

Wah, tahun 2003? Dan sepatu buatan sang kakek masih ada, disimpan oleh pemiliknya. Masih bisa dibetulkan, berarti bukan karya yang main-main, ya. Aku berdecak kagum.

Melangkah lagi, bangunan lain yang menyorot perhatianku adalah losmen Asri. Dulunya, penginapan ini adalah pabrik roti milik Haji Iskak. Saat pertempuran 10 November, tempat ini menjadi dapur umum para pejuang. Di sinilah, dulu, pasokan perbekalan disiapkan. Wah wah.. Setiap lokasi punya sejarah sendiri-sendiri yang bikin merinding.
  
Selain wisata sejarah, Kampung Lawas Maspati juga menyuguhkan mesin waktu. Di gang selanjutnya, kami disambut dengan permainan-permainan tradisional. Ada engkle, lompat karet dan bakiak. Main dong jelas, rugi banget jauh-jauh ke sini gak ikutan main. Merasakan lagi frasa bahagia itu sederhana. Sangat sederhana, sangat bahagia.

Setelah main, kami gak boleh langsung istirahat, karena sudah dinanti oleh pasukan Patrol. Oh yoi, lagi-lagi musik dimainkan dan kami goyang lagi. Ini sehat beneran deh ah, joget mulu! x))


Setiap gang di Kampung Lawas Maspati tak pernah absen dari dua hal: hijau dan kreatifitas. Di sana, setiap rumah wajib melakukan urban farming di halaman masing-masing. Lengkap juga dengan pengolahan pupuk sederhana menggunakan sampah rumah tangga. Di salah satu sudut, terdapat bank sampah yang dikelola secara swadaya dan hasilnya diputar lagi untuk menghidupi kampung. Sampai di sini, aku udah boleh bilang kalau mereka keren banget?


Oh, bukan itu aja. Warga Kampung Lawas Maspati juga berdaya dengan menghasilkan dan menjual aneka produk rumahan. Dari kerajinan daur ulang, olahan pangan, obat-obatan herbal sampai jamu kemasan. Mereka mengubah tanaman-tanaman di halaman menjadi manfaat untuk banyak orang, menyulap sampah menjadi rupiah. Seluruh proses dilakukan sendiri di kampung, dari pengolahan, pengemasan, hingga distribusi dan promosi. 

Kesukaanku, wedang jahe JABLAY. Yap, Jablay adalah merk kebanggan kampung ini, digunakan untuk produk-produk yang mereka hasilkan. Singkatan dari Jadi Belajar Biar Tidak Alay. 

Jadi, Jablay sekarang bukan cuma bisa dipegang, tapi juga disruput! Slurp.

**

Menyusuri Kampung Lawas Maspati adalah menyusuri arifnya Indonesia. Tentang sejarah perjuangan yang semangatnya terus mengiring setiap langkah kita hingga hari ini. Tentang orang kampung yang rukun, guyub, gotong royong, dan menjadi keluarga bagi siapa saja. Tentang tanah surga yang diatasnya dapat tumbuh pangan dan obat-obatan. Tentang bahagia yang sangat sederhana. 

Tentang sebuah kampung yang penuh inspirasi, Kampung Lawas Maspasti namanya.

Comments

Popular posts from this blog

7 Alasan Kenapa Aku Jatuh Hati pada ASUS Zenfone 3

Bosen nggak sih liat aku terus-terusan pamer ASUS Zenfone 3 di sosmed? Bhahahaha Ya gimana dong, aku betul-betul jatuh hati smartphone ini. Bahkan gak cuma aku, di rumah, ASUS Zenfone 3 ini jadi primadona. Enggak bisa deh dipakai satu orang dalam waktu yang lama. Kalau seminggu aku pakai, minggu depannya pasti diculik suamiku. Penginnya sih punya satu-satu ya, tapi kan kami enggak kentut duit. Yaudahlah satu aja dipakai berdua. Itu smartphone apa sabun mandi? Seri yang aku bahas kali ini adalah ZE552KL . Ini nih, 7 alasan kenapa aku jatuh hati sama ASUS Zenfone 3: 1. Kaca Belakang yang Berkilau Bukan, bukan kaca belakang buat atret, lukata angkot. Jadi, case bagian belakang ASUS Zenfone 3 ini terbuat dari crystal glass . Dan kalau kena cahaya, asli, dia berkilau! Beberapa orang nggak suka sama hal ini karena bikin cepat kotor. Karena sidik jari apalagi saat tangan berkeringat, pasti nempel dan meninggalkan kesan dekil. Tapi aku mah suka banget. Karena kalau lagi selfie siang bo...

Tips Foto Flatlay Keluar-Keluar Berantakan

Tau dong kalau sekarang lagi musim foto flatlay? Tenang, aku sudah pernah nulis tentang Tutorial Membuat Foto Flatlay , jadi yang masih buta banget bisa belajar awalannya dulu. Nah, salah satu gaya flatlay yang sangat kekinian, selain hand in frame , adalah keluar-keluar berantakan. Sumpah ya aku gak tau istilah aslinya tuh apaaaa. Pokoknya, itu tuh, flatlay yang kesannya banyak benda berserakan keluar dari tas atau pouch. Apa sih namanya sih? Kayak gini nih: Akrab dong ya dengan gaya flatlay semacam ini? Itulah yang kumaksud, dan itulah yang aku sebut keluar-keluar berantakan. Semoga tidak ada flatlay master yang membaca ini dan menceburkanku ke selokan terdekat. Amin. Sekarang, aku mau kasih tips membuat foto flatlay keluar-keluar berantakan. Cekidotcus! 1. Ukuran Tas vs Ukuran Benda Flatlay gaya ini biasanya menggunakan tas atau pouch, sebagai pemanis objek utama dalam foto. Nah, hal penting yang harus diperhatikan, adalah ukuran mereka sebagai pasangan objek. Tas dan benda yang ke...

Review: Parasol Face Sunscreen Cream, Cinta Matiku!

Kalau ngomongin sunblock (sunblock sama sunscreen apa bedanya sih?), udahlah, nggak ada yang bisa mengalahkan Parasol di hatiku. Baik yang ungu maupun yang oren, yang mana aku nggak tau bedanya apa hahahaha dua-duanya favorit, cinta matiku. Bagi seorang Pungky, pantang panas-panasan sebelum oles Parasol! Pertama kali tau waktu di Phuket, Ifa yang bawa. Dia bilang, itu sunblock beli di apotik, enak dipakenya. Yaudah aku cobain, eh ternyata beneran, mandi matahari di laut selama 3 hari itu, kulitku baik-baik aja. Biasanya kan ngelopek-ngelopek, perih, dan jadi putih-putih kayak panu gitu. Ini enggak, biasa aja kayak nggak abis panas-panasan. Parasol, di kulitku, beneran top markotop endos jelantos sip markisip. Bentuknya cream padat, tapi gampang banget ratanya. Kayak yang sekali oles langsung ngeblend gitu, nggak bikin putih-putih atau apa. Cepet meresap dan gak lengket sedikitpun. Teksturnya lembut, jadi di kulit nyaman dan enak. Dia ada dua jenis, satu yang kemasan ungu, satu lagi ore...