Skip to main content

Makanan Halal di Phuket



Sebenernya aku bukan orang yang terlalu peduli sama urusan halal atau haram. Gak beriman? memang! Inilah titikku sebagai manusia biasa. Jadi, waktu mau berangkat ke Phuket, aku sama sekali gak cari tau soal tempat-tempat makanan halal. Eh ternyata pas sampai sana, aku mati gaya. Mau makan pork kok ya gak sampai hati, antara jijik dan takut dosa. Kemaren-kemaren kemana aja neng.

Sampai di Phuket, Ifa cerdasnya khan maen. Dia ternyata udah googling sana sini soal makanan non-pork di Phuket, katanya, yang paling terjangkau itu makanan beku di sevel. Lima belas ribu aja kalau dirupiahin. Jodoh emang gak kemana, hotel kami nempel pel sama minimarket hijau itu. Jadilah kami gadis sevel; pagi, siang, malem, nangkring depan freezer cari makan.

Eh emang dasar enggak direstui irit, kami di sana jalan bareng sama bule muslim dari France. Azzau namanya. Dia bilang, dia biasanya makan di restoran libanon, pinggir pantai Patong, halal. Kami tertarik, tapi pas nanya harga, amsyong gila. Buat satu orang bisa abis sekitar empat ratus ribu rupiah, menunya paling roti-rotian atau kebab ala-ala. Apalukata. Mending juga kami ke sevel sebelah hotel, rejeki lima langkah, mabelas ribu hore. Makannya di teras hotel, minumnya akua Thailand murah meriah. Tuhan bersama gadis gadis sevel.


Mabelas ribu hore!

Dan di sinilah drama dimulai ... Azzau kami ajak makan ala kami, gadis-gadis Indonesia bisa ke Phuket tapi gak bisa makan layak. Dia setuju. Sampai di sevel dia pilih-pilih makan dan kecewa, katanya, enggak ada label halal di kemasan makanannya. Ya memang gak ada, kami kan gak bilang kalau ada label halalnya. Cuma, banyak menu yang lauknya ayam atau seafood, jadi kami sikat aja daripada pingsan laper di negara orang.

Azzau bete, dia bilang makanan se-freezer itu belum tentu ada yang halal. Bisa aja minyaknya minyak babi, kami cengengesan bego tapi cantik. Azzau menyarankan supaya kami ambil yang seafood aja, jangan ayam. Karena ayam di Thailand, belum tentu matinya disembelih, sangat mungkin direndem air panas dan jadi haram. Lagi lagi kami cuma planga plongo bloon tapi cantik. Lah itu seafood belum tentu halal lu abisin juga. Selamat datang di geng gadis-gadis sevel, bro...

Hari terakhir di Phuket, kami akhirnya (sok) niat berburu makanan halal. Kami ke pantai Patong, di sana banyak yang jual Pancane, pancake ala Thailand yang enaknya bikin merem melek. Kalah deh jamahan Zayn Malik mah. Kami beli yang nutella dan lemon, kata ibu yang jual ini halal banget. Yaudah akhirnya kami makan malam pakai pancake, kebetulan ukurannya segede sendal jepit, jadi kenyang dan tahan gak makan semaleman. Walaupun harga satunya lima puluh ribu kalau dirupiahin, gak apa-apa lah sekali-kali jadi aktivis halal.

Judulnya makan pancane biar kenyang sampai besok, nyatanya dari pantai kami melipir ke Banzaan Market dan makan lagi berporsi-porsi di sana. Hahahahaha lu mamam tuh pancake harga presiden. Banzaan Market ini salah satu pusat kuliner di Phuket, adanya di deket pantai Patong. Di sana ada ratusan tenda makan yang mirip pasar malem di lapangan kelurahan. Semuanya ada.

Awalnya kami tergirur sama tenda makanan Malaysia, yang jual-karena lihat wajah melayu kami-dari jauh udah teriak-teriak aja. Miss.. Halal.. Halal! Tapi pas merhatiin harganya, eng ing eng, sama aja kayak makan di sevel. Tapi versi bareng anak cucu dan saudara setanah air. Muahal!

Terus ada gerobak jual udang tempura, lima puluh ribu rupiah aja satu porsi. Kami tanya halal, jawabannya halal. Yaudah deh, malam itu, pada udang tempura kami bersimpuh lemah. Abis itu sempet beli jus juga, jus buah dan seger banget. Bilangnya sih halal, tapi gak jamin. Soalnya kami lihat blendernya bareng sama blender buat minuman ber-alkohol. Di sini jiwa aktifis halalku runtuh, jadi abis segelas jus lalu bahagia. Muahahaha

Intinya, kalau mau makan halal di Phuket, sebenernya buanyak. Restoran fast food hampir semuanya halal, restoran-restoran timur tengah, atau restoran-restoran Malaysia, pasti halal. Cuma ya itu, harganya bikin nyengir. Gak cocok sama kantong gadis-bisa-ke-phuket-tapi-susah-makan macam aku. Cemilan kayak pancane, seafood di gerobak pinggir jalan, atau es krim kelapa yang hits itu, semuanya halal juga. Paling asik ke Banzaan Market, makanan di sana melimpah ruah. Jadi pilihan tepat kalau cari-cari hotel sekitar Patong, kayak akyu.

Tapi yaaa, tetep sih paling sreg beli frozen food di sevel. Lima belas ribu sekali makan dan itu membahagiakan syekali. Pilih yang seafood supaya Insya Allah halal. Sebelum makan bissmillah dulu, pasrah aja sama Gusti. Sip. Mantap.


Purwokerto, 25 february tengah malam, 2016

Salam manis dari,
Gadis sevel nomer urut satu. Bhay.

Comments

Popular posts from this blog

7 Alasan Kenapa Aku Jatuh Hati pada ASUS Zenfone 3

Bosen nggak sih liat aku terus-terusan pamer ASUS Zenfone 3 di sosmed? Bhahahaha Ya gimana dong, aku betul-betul jatuh hati smartphone ini. Bahkan gak cuma aku, di rumah, ASUS Zenfone 3 ini jadi primadona. Enggak bisa deh dipakai satu orang dalam waktu yang lama. Kalau seminggu aku pakai, minggu depannya pasti diculik suamiku. Penginnya sih punya satu-satu ya, tapi kan kami enggak kentut duit. Yaudahlah satu aja dipakai berdua. Itu smartphone apa sabun mandi? Seri yang aku bahas kali ini adalah ZE552KL . Ini nih, 7 alasan kenapa aku jatuh hati sama ASUS Zenfone 3: 1. Kaca Belakang yang Berkilau Bukan, bukan kaca belakang buat atret, lukata angkot. Jadi, case bagian belakang ASUS Zenfone 3 ini terbuat dari crystal glass . Dan kalau kena cahaya, asli, dia berkilau! Beberapa orang nggak suka sama hal ini karena bikin cepat kotor. Karena sidik jari apalagi saat tangan berkeringat, pasti nempel dan meninggalkan kesan dekil. Tapi aku mah suka banget. Karena kalau lagi selfie siang bo...

Tips Foto Flatlay Keluar-Keluar Berantakan

Tau dong kalau sekarang lagi musim foto flatlay? Tenang, aku sudah pernah nulis tentang Tutorial Membuat Foto Flatlay , jadi yang masih buta banget bisa belajar awalannya dulu. Nah, salah satu gaya flatlay yang sangat kekinian, selain hand in frame , adalah keluar-keluar berantakan. Sumpah ya aku gak tau istilah aslinya tuh apaaaa. Pokoknya, itu tuh, flatlay yang kesannya banyak benda berserakan keluar dari tas atau pouch. Apa sih namanya sih? Kayak gini nih: Akrab dong ya dengan gaya flatlay semacam ini? Itulah yang kumaksud, dan itulah yang aku sebut keluar-keluar berantakan. Semoga tidak ada flatlay master yang membaca ini dan menceburkanku ke selokan terdekat. Amin. Sekarang, aku mau kasih tips membuat foto flatlay keluar-keluar berantakan. Cekidotcus! 1. Ukuran Tas vs Ukuran Benda Flatlay gaya ini biasanya menggunakan tas atau pouch, sebagai pemanis objek utama dalam foto. Nah, hal penting yang harus diperhatikan, adalah ukuran mereka sebagai pasangan objek. Tas dan benda yang ke...

Review: Parasol Face Sunscreen Cream, Cinta Matiku!

Kalau ngomongin sunblock (sunblock sama sunscreen apa bedanya sih?), udahlah, nggak ada yang bisa mengalahkan Parasol di hatiku. Baik yang ungu maupun yang oren, yang mana aku nggak tau bedanya apa hahahaha dua-duanya favorit, cinta matiku. Bagi seorang Pungky, pantang panas-panasan sebelum oles Parasol! Pertama kali tau waktu di Phuket, Ifa yang bawa. Dia bilang, itu sunblock beli di apotik, enak dipakenya. Yaudah aku cobain, eh ternyata beneran, mandi matahari di laut selama 3 hari itu, kulitku baik-baik aja. Biasanya kan ngelopek-ngelopek, perih, dan jadi putih-putih kayak panu gitu. Ini enggak, biasa aja kayak nggak abis panas-panasan. Parasol, di kulitku, beneran top markotop endos jelantos sip markisip. Bentuknya cream padat, tapi gampang banget ratanya. Kayak yang sekali oles langsung ngeblend gitu, nggak bikin putih-putih atau apa. Cepet meresap dan gak lengket sedikitpun. Teksturnya lembut, jadi di kulit nyaman dan enak. Dia ada dua jenis, satu yang kemasan ungu, satu lagi ore...